Sabtu, 26 Mei 2018

Kehidupan Komunitas Adat Tajakembang Dayeuhluhur, Cilacap



Tajakembang merupakan satu dari beberapa komunitas adat yang ada di Jawa Tengah. Secara administratif berada di Dusun Kujang, Desa Cijeruk, Kecamatan Dayeuhluhur, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Kecamatan Dayeuhluhur, di sebelah utara berbatasan dengan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. Di sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Wanareja, Kabupaten Cilacap. Di sebelah selatan dengan Kecamatan Langensari Kota Banjar, Jawa Barat (pemakai bahasa Sunda), dan di sebelah barat dengan Kabupaten Ciamis, Jawa Barat (pemakai bahasa Sunda).

Dayeuhluhur pernah berada di bawah pengaruh Kerajaan Kawali, Jawa Barat, pernah pula berada di bawah pengaruh Kerajaan Mataram. Sebagian besar masyarakat Dayeuhluhur merupakan suku Sunda atau dikenal dengan nama Urang Sunda. Masyarakat Dayeuhluhur mewarisi sejarah lisan yang menyatakan bahwa batas masyarakat Sunda (aaman Kerajaan Kawali) sampai Sungai Cijalu yang sekarang masuk Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap. Sehingga tidak mengherankan apabila masyarakat Dayeuhluhur masih memegang teguh budaya Sunda, walaupun dalam beberapa hal sudah mendapat pengaruh dari luar.

Bahasa Sunda yang mereka gunakan mirip dengan bahasa Sunda masyarakat Serang, Banten akibat pengaruh kerajaan Islam di Jawa. Bahasa ini lebih dikenal dengan bahasa Sunda ‘kasar’, yang berbeda dengan bahasa Sunda masyarakat Priangan (bahasa Sunda ‘halus’). Dialek yang dipakai merupakan dialek Sunda Kuno yang dipengaruhi bahasa Jawa.

Masyarakat Dayeuhluhur tidak semua senang dengan wayang golek, bahkan ada yang menganggap tabu. Padahal wayang golek merupakan kesenian yang cukup terkenal dari budaya Sunda. Dalam masalah hirarki, juga tidak sekaku masyarakat Jawa, kedudukan laki-laki dan perempuan sama pentingya sebagai makhluk Tuhan. Budaya yang berkembang pada masyarakat Dayeuhluhur, seperti halnya pada masyarakat Jawa, juga merupakan interprestasi kehidupan yang bertopang pada sektor pertanian. Hal-hal seperti itu jugalah yang terjadi pada komunitas adat Tajakembang.

Komunitas adat Tajakembang di Dusun Kujang ini terletak di wilayah terpencil, namun memiliki daya survival yang kuat terutama dalam hal ketahanan pangan. Sebagian besar berasal dari Desa Cijeruk, dan sebagian dari Banjar, Ciamis, Jawa Barat. Komunitas adat ini mempertahankan jumlah kepala keluarga/KK berkisar antara 9 sampai dengan 15 KK. Apabila ada lebih dari 15 KK, maka ada yang keluar meninggalkan kampung Tajakembang sehingga jumlah KK maksimal tetap 15 KK.

Komunitas adat Tajakembang memiliki tokoh yang berperan penting terkait sistem kepercayaan yang diyakini. Tokoh tersebut terutama yang disebut pepunduh/puun dan kayim. Pepunduh/puun adalah kepala adat/pemimpin adat yang dijabat oleh satu orang yang dituakan dalam komunitas. Tugasnya adalah memimpin perhelatan ritual dengan memanjatkan doa, menjaga kesejahteraan dan kelestarian masyarakat dan lingkungan serta berbakti kepada Nyi Pohaci (dewi padi) dengan menjalankan ritual-ritual tertentu. Bagi masyarakat adat Tajakembang pepunduh adalah orang suci yang doanya dikabulkan Tuhan. Sedangkan kayim adalah pembantu di bawah koordinasi kepala urusan kesejahteraan rakyat. Tugasnya memimpin doa pada setiap kegiatan. Pepunduh berdoa dalam bahasa Sunda, sedang kayim berdoa dengan bahasa Arab. Hal ini tentunya tidak lepas dari masuknya Islam ke komunitas tersebut.

Komunitas adat Tajakembang, seperti halnya masyarakat Sunda yang lain memegang teguh norma yang mengatur untuk bersikap baik. Hal ini berdasarkan falsafah ‘silih asih, silih asah dan silih asuh’ (saling mengasihi, saling mengedukasi/mengajari dan saling memelihara/melindungi). Komunitas adat Tajakembang memegang teguh pikukuh karuhan (aturan dari nenek moyang). Salah satunya adalah tidak mengeksploatasi alam secara berlebihan. Ketika membangun rumah juga pantang memakai bahan yang permanen seperti semen, genting. Intinya hidup selaras dengan lingkungan.

Komunitas adat Tajakembang juga melakukan ritual-ritual tertentu pada waktu mau melakukan suatu aktivitas, misalnya bertani, membangun rumah atau lumbung padi/leuit, daur hidup manusia (pernikahan, kelahiran dan kematian).

Judul : Budaya spiritual Parahyangan di “Tanah Mataram”. Sistem Kepercayaan Komunitas Adat Tajakembang, Dayeuhluhur-Cilacap Penulis : Sujarno, Indra Fibiona, Noor Sulistyobudi Penerbit : BPNB, 2017, Yogyakarta Bahasa : Indonesia Jumlah halaman : xii + 161
Disqus Comments